-->
Fisiografi Gorontalo

Fisiografi Gorontalo

Secara fisiografis, yaitu pembagian zona bentang alam yang merupakan representasi batuan dan struktur geologinya, Gorontalo dapat dibedakan ke dalam empat zona fisiografis utama, yaitu Zona Pegunungan Utara Telongkabila-Boliohuto, Zona Dataran Interior Paguyaman-Limboto, Zona Pegunungan Selatan Bone-Tilamuta-Modello, dan Zona Dataran Pantai Pohuwato.

Fisiografi Gorontalo
Peta Propinsi Gorontalo
Zona Pegunungan Utara Telongkabila-Boliohuto umumnya terdiri dari formasi-formasi batuan gunung api berumur Miosen – Pliosen (kira-kira 23 juta hingga 2 juta tahun yang lalu). Umumnya terdiri dari batuan beku intermedier hingga asam, yaitu batuan-batuan intrusif berupa diorit, granodiorit, dan beberapa granit. Batuan lainnya merupakan batuan sedimenter bersumber dari gunung api terdiri dari lava, tuf, breksi, atau konglomerat.

Zona kedua merupakan cekungan di tengah-tengah Provinsi Gorontalo, yaitu Dataran Interior Paguyaman-Limboto. Dataran yang cukup luas yang terbentang dari Lombongo sebelah timur Kota Gorontalo, menerus ke Gorontalo, Danau Limboto, hingga Paguyaman, dan Botulantio di sebelah barat, merupakan pembagi yang jelas antara pegunungan utara dan selatan. Dataran ini merupakan cekungan yang diduga dikontrol oleh struktur patahan normal seperti dapat diamati di sebelah utara Pohuwato di Pegunungan Dapi-Utilemba, atau di utara Taludaa di Gunung Ali, Bone.

Sejak itu, proses-proses tektonik telah mengangkat laut ini menjadi lebih dangkal yang akhirnya surut. Setelah menjadi dataran, cekungan ini menjadi danau yang luas. Tetapi kembali terjadi proses pendangkalan hingga sekarang dan hanya menyisakan Danau Limboto kira-kira seluas 56 km² dengan kedalaman 2,5 m yang merupakan kedalaman terdangkal dari seluruh danau di Indonesia (Lehmusluoto dan Machbub, 1997). Proses-proses tektonik pengangkatan daratan yang memang aktif di Indonesia Timur menyebabkan drainase menjadi lebih baik. Air danaupun berproses menyurut dan sekarang ditambah dengan proses sedimentasi dari perbukitan disekilingnya yang mempercepat proses pendangkalan Danau Limboto.

Zona Pegunungan Selatan Bone-Tilamuta-Modello umumnya terdiri dari formasi-formasi batuan sedimenter gunung api berumur sangat tua di Gorontalo, yaitu Eosen – Oligosen (kira-kira 50 juta hingga 30 juta tahun yang lalu) dan intrusi-intrusi diorit, granodiorit, dan granit berumur Pliosen. Batuan gunung api tua umumnya terdiri dari lava basalt, lava andesit, breksi, batu pasir dan batu lanau, beberapa mengandung batu gamping yang termetamorfosis. Seperti halnya di utara, asosiasi batuan-batuan tersebut juga membawa pada kandungan mineral logam emas yang ditambang secara manual oleh rakyat, seperti di Bone Pantai, Tilamuta, dan Gunung Pani, Marisa.

Read more »
Jenis-jenis Tanah di Papua

Jenis-jenis Tanah di Papua

Luas daerah Papua ± 410.660 Km2, tetapi tanah yang baru dimanfaatkan ± 100.000 Ha. Tanahnya berasal dari batuan Sedimen yang kaya Mineral, kapur dan kwarsa. Permukaan tanahnya berbentuk lereng, tebing sehingga sering terjadi erosi.

Jenis-jenis Tanah di Papua


Sesuai penelitian tanah di Papua diklasifikasikan ke dalam 10 (sepuluh) jenis tanah utama, yaitu (1) tanah organosol terdapat di pantai utara dan selatan, (2) tanah alluvia juga terdapat di pantai utara dan selatan, dataran pantai, dataran danau, depresi ataupun jalur sungai, (3) tanah litosol terdapat di pegunungan Jayawijaya, (4) tanah hidromorf kelabu terdapat di dataran Merauke, (5) tanah Resina terdapat di hampir seluruh dataran Papua, (6) tanah medeteren merah kuning, (7) tanah latosol terdapat diseluruh dataran Papua terutama zone utara, (8) tanah podsolik merah kuning, (9) tanah podsolik merah kelabu dan (10) tanah podsol terdapat di daerah pegunungan.

Tanah yang potensial untuk tanah pertanian antara lain (a) tanah rawa pasang surut luasnya ± 76.553 Km2,  (b) Tanah kering luasnya ± 58.625 Km2. Dari sekitar 41.066.000 Ha luas tanah Papua dapat di klasifikasikan dalam dua kelompok besar yaitu: areal berhutan, belukar dan alang-alang seluas 37.497.364 Ha atau 91,31%. Areal pertanian, perkebunan, peternakan, pemukiman dll 3.568.636 Ha atau 8,69%.

Jenis-jenis tanah di Papua (Irian Jaya)

1.Tanah Vulkanis
Ciri-cirinya :
a) Butir tanahnya halus hingga menyerupai abu
b) Tidak mudah terbang bila ditiup angin
c) Tanahnya sangat subu
d) Banyak mengandung unsur hara yg dibutuhkan tumbuhan

2. Tanah Humus
Ciri-cirinya :
a) Tanahnya sangat subur
b) Berasal dr pembusukan tumbuhan
c) Terdapat di bagian atas dari tanah pada hutan-hutan lebat dan berasal dari pembusukan-pembusukan tumbuhan 

3.Tanah Aluvial
Ciri-cirinya :
a) Tanahnya sangat subur
b) Terbentuk dr hasil endapan di tempat yg lebih rendah
c) Banyak terdapat di lembah aliran sungai dan dataran rendah
  • Daerah ini merupakan lumbung-lumbung beras di tanah air
  • Dimanfaatkan sebagai daerah pertanian tanaman padi
  • Terdapat di daerah pantai
4. Tanah gambut
Ciri-cirinya :
a) Tanahnya kurang subur
b) Terbentuk dari bahan-bahan organik
c) Terdapat di daerah pantai
Read more »
Fisiografi Pulau Papua

Fisiografi Pulau Papua

Fisiografi adalah bentukan alam dipermukaan bumi yang didasarkan pada proses pembentukan dan evolusinya. Proses pembentukan dan evolusinya dapat berasal dari tenaga dalam bumi (endogen) dan dari luar bumi (eksogen)

Fisiografi daerah Papua terdiri dari Dataran rendah Pantai, Rawa Pantai dan Muara Sungai, Kaki gunung dan Lembah Kecil serta dataran tinggi yang dihuni oleh sekitar 250 suku etnik dengan sistem mata pencaharian dan pola hidup berbeda-beda, struktur sosial masyarakat yang beragam, sebagai akibat dari proses-proses adaptasi terhadap lingkungan alamnya. Kondisi fisiografi dengan zona ekosistem yang beragam memberikan pengaruh yang signifikan terhadap matapencaharian, tingkah laku dan mobilitas penduduk.

Fisiografi Pulau Papua


Dalam mengkaji kondisi geologi Irian, ada beberapa subpokok bahasan yang meliputi kondisi tektonik daerah irian, mendala srtruktur dan stratigrafi batuan yang ada di pulau Irian.

Berikut ini jabaran terperinci mengenai kondisi geologi Irian:

1. Tektonik Setting Pulau Irian

Geologi di wilayah ini sangat kompleks karena kawasan ini terbentuk dari dua interaksi lempeng yaitu lempeng Australia dan lempeng pasifik sehingga menghasilkan bentukan yang khas. Dan periode pembentukannya lebih dikenal dengan Orogenesa Melanesia. Orogenesa ini mengakibatkan pola struktur irian jaya menjadi sangat rumit dan khas. Secara keseluruhan unsur ini diakibatkan oleh gaya pemampatan berarah barat daya-timur laut, searah dengan tumbukan Dow, drr (1984).

Ada dua bagian kerak utama yang terlibat di Irian Jaya yaitu kraton australia dan kerak pasifik. Yang pertama adalah mantap dan menjadi dasar bagian selatan, sedangkan yang kedua merupakan alas pantai utara (termasuk teluk cendarwasih, dow, drr, 1982)(gb.1). daerah badan burung merupakan jalur memanjang dari timur ke barat yang telah mengalami pelipatan. Jalur ini disebut sesar naik pegunungan tengah (JSNPT).

geologi lempeng tektonik pulau papua


Awal Miosen merupakan masa orogenesa Melanesia. Pada masa itu proses tektonik di daerah ini mulai terpacu sehingga menghasilkan kedudukan tumbukan yang kearah barat daya yang lebih intensif. Pertumbukan di kedua mendala tersebut mengakibatkan mendala JSNPT membengkok dan berhenti di daerah leher burung. (jalur lipatan lengguru)(gb 1, daerah 2). Bersamaan dengan ini terbentuklah kepala burung yang khas itu (gb. 1, daerah 1). Bagian yang sangat menonjol dari tatan tektonik ini adalah sistem sesar mendatar (transform fault) mengiri yaitu sesar sorong-yapen, terutama segmen lateral yang melibatkan ratusan kilometer batuan yang terseret. 

 2. Stratigrafi Irian Jaya

Geologi Irian Jaya secara garis besar dibedakan ke dalam tiga kelompok batuan penyusan utama yaitu: 
(a) batuan kraton Australia; 
(b) batuan lempeng pasifik; 
(c) batuan campuran dari kedua lempeng.

Litologi yang terakhir ini batuan bentukan dari orogenesa Melanesia. Batuan yang berasal dari kraton Australia terutama tersusun oleh batuan alas, batuan malihan berderajat rendah dan tinggi sebagian telah diintrusi oleh batuan granit di sebelah barat, batuan ini berumur palaezoikum akhir, secara selaras ditindih oleh sedimen paparan mesozoikum dan batuan sedimen yang lebih muda , batuan vulkanik dan batuan malihan hingga tersier akhir. (dow, drr,1985). Singkapan yang baik dan menerus dapat diamati sepanjang daerah batas tepi. Utara dan pegunungan tengah.

Batuan lempeng pasifik umumnya lebih muda dan tersusun terutama oleh batuan ultrabasa, tuf berbutir halus dan batuan sedimen laut dalam yang diduga berumur jura batuan mesozoikum lainnya yang berasal dari kerak samudera seperti batuan ultramafik (kompleks ofiolit) dan batuan plutonik berkomposisi mafik. Kelompok batuan ini tersungkupkan dan terakrasikan di atas kerak kontinen Australia karena bertumbukan dengan lempeng pasifik. Keadaan ini membentuk pola pegunungan kasar di daerah pegunungan tengah bagian utara. Jalur ofiolit membantang kearah timur barat sejauh 400 km dan lebih dari 50 km lebar.

3.Mendala struktur daerah Irian Jaya

    
   a. Irian jaya bagian timur
  • Jalur Sesar Naik New Guinea (JSNNG)(JSNNG)
Jalur Sesar Naik New Guinea merupakan jalur lasak irian (jalasir) yang sangat luas, terutama di daerah tengah-selatan badan burung. Jalur ini melintasi seluruh zona yang ada di daerah sebelah timur New Guinea yang menerus kearah barat dan dikenal sebagai jalur sesar naik pegunungan tengah (JSNPT). Zona JSNNG-JSNPT merupakan zona interaksi antara lempeng Australia dan pasifik. Lebih dari setengah bagian selatan New guinea ini dialasi oleh batuan yang tak terdeformasikan dari kerak benua. Zone JSNPT, di utara dibatasi oleh sesar yapen, sesar sungkup mamberamo. Batas tepi barat oleh sesar benawi torricelli dan di selatan oleh sesar naik foreland. Sesar terakhir yang membatasi JSSNG ini diduga aktif sebelum orogen melanesia.

  • Jalur sesar naik pegunungan tengah (JSNPT)
JSNPT merupakan jalur sesar sungkup yang berarah timur-barat dengan panjang 100 km, menempati daerah pegunungan tengah Irian Jaya. Batuannnya dicirikan oleh kerak benua yang terdeformasikan sangat kuat. Sesar sungkup telah menyeret batuan alas yang berumur perm, batuan penutup berumur mesozoikum dan batuan sedimen laut dangkal yang berumur tersier awal ke arah selatan. Di beberapa tempat kelompok batuan ini terlipat kuat. Satuan litologi yang paling dominan di JSNPT ialah batu gamping new guinea dengan ketebalan mencapai 2000 m.

Sesar sungkup JSNPT dihasilkan oleh gaya pemampatan yang sangat intensif dan kuat dengan komponen utama berasal dari arah utara. Gaya ini juga menghasilkan beberapa jenis antiklin dengan kemiringan curam bahkan sampai mengalami pembalikan (overtuning). Proses ini juga menghasilkan sesar balik yang bersudut lebar (reserve fault). Penebalan batuan kerak yang diduga terbentuk pada awal pliosen ini memodifikasi bentuk daerah JSNPT. Periode ini juga menandai kerak yang bergerak ke arah utara.membentuk sesar sungkup. Mamberamo (the mamberamo thrust belt) dan mengawali alih tempat gautier (the gautier offset).
  • Jalur sesar naik Mamberamo
Jalur sesar ini memanjang 100 km ke arah selatan dan terdiri dari sesar anak dan sesar geser (shear) sehingga menyesarkan batuan plioesten formasi mamberamo dan batuan kerak pasifik yang ada di bawahnya. (gb. 3). William, drr (1984) mengenali daerah luas dengan pola struktur tak teratur. Di sepanjang jalur sesar sungkup dijumpai intrusi poton-poton batuan serpih (shale diapirs) dengan radius seluas 50 km, hal ini menandakan zona lemah (sesar). Poton-poton lumpur ini biasanya mempunyai garis tengah beberapa kilometer, umumnya terdiri dari lempung terkersikkan dan komponen batuan tak terpilahkan dengan besar ukuran fragmen beberapa milimeter hingga ratusan meter. Sekarang poton lumpur ini masih aktif dan membentuk teras-teras sungai.

b. Irian jaya barat
  • Zona sesar sorong
Batas lempeng pasifik yang terdapat di Irian Jaya barat berupa sesar mengiri yang dikenal dengan sistem sesar Sorong-Yapen (gambar). Zona sesar ini lebarnya 15 km dengan pergeseran diperkirakan mencapai 500 km (dow, drr.,1985). Sesar ini dicirikan oleh potongan-potongan sesar yang tidak teratur, dan dijumpai adanya bongkahan beberapa jenis litologi yang setempat dikenali sebagai batuan bancuh. Zone sesar ini di sebelah selatan dibatasi oleh kerak kontinen tinggian kemum dan sedimen cekungan selawati yang juga menindih kerak di bagian barat. Di utara sesar geser ini ditutupi oleh laut, tetapi di pantai utara menunjukkan harga anomali positif tinggi.

Hal ini menandakan bahwa dasar laut ini dibentuk oleh batuan kerak samudera. lima kilometer kearah barat daya batuan kerak pasifik tersingkap di pulau Batanta, terdiri dari lava bawah laut dan batuan gunung api busur kepulauan.

Perederan beberapa ratus kilometer dari zona sesar Sorong-Yapen pertama kali dikenal oleh Visser Hermes (1962). Adalah sesar mengiri dan berlangsung sejak Miosen Tengah. Kejadian ini didukung oleh bergesernya anggota batu serpih formasi Tamrau berumur Jura-Kapur yang telah terseret sejauh 260 km dari tempat semula yang ada disebelah timurnya (lihat pergeseran sesar Wandamen dibagian Timur) dan hadirnya blok batuan vulkanik alih tempat (allochtonous) yang berumur Miosen Tengah sejauh 140 km di daerah batas barat laut Pulau Salawati (Visser & Hermes, 1962)
  • Zona Sesar Wandamen
Sesar Wandamen (Dow,1984) merupakan kelanjutan dari belokan Sesar Ransiki ke Utara dan membentuk batas tepi timur laut daerah kepala burung memanjang ke Barat daya pantai sasera, dan dari zona kompleks sesar yang sajajar dengan leher burung. Geologi daerah Zona Sesar Wandamen terdiri dari batuan alas berumur Paleozoikum Awal, batuan penutup paparan dan batuan sediment yang berasal dari lereng benua. Kelompok ini dipisahkan oleh zona dislokasi dengan lebar sampai ratusan kilometer, terdiri dari sesar-sesar sangat curam dan zona perlipatan isoklinal.

Perubahan zona arah sesar Wandamen dari Tenggara ke Timur di tandai bergabungnya sesar-sesar tersebut dengan sesar Sungkup Weyland. Timbulnya alih tempat (allochtonous) yang tidak luas tersusun oleh batuan sedimen mezozoic. Diatas satuan ini diendapkan kelompok batu gamping New Guenia. Jalur sesar Wandamen dan Sesar Sungkup lainya di zona ini merupakan bagian dari barat laut JSNPT.
  • Jalur Lipatan Lengguru (Lengguru Fold Belt)
Jalur Lipatan lengguru (JLL) adalah merupakan daerah bertopografi relative rendah jarang yang mencapai ketinggian 1000 m di atas muka laut. Daerah ini dicirikan oleh pegunungan dengan jurus yang memenjang hingga mencapai 50 km, batuanya tersusun oleh batu gamping New Guenia yang resistan. Jalur lipatan ini menempati daerah segitiga leher burung dengan panjang 3000 km dan lebar 100 km dibagian paling selatan dan lebar 30 km dibagian utara. Termasuk di daerah ini adalah batuan paparan sediment klastik Mesozoikum yang secara selaras ditindih oleh batu gamping New Guenia (Kapur awal miosen). Batuan penutup ini telah mengalami penutupan dan tersesar kuat. Pengerutan atau lebih dikenal dengan thin skin deformation berarah barat laut dan hampir searah dengan posisi leher burung. Intensitas perlipatan tersebut cenderung melemah kea rah utara zona perlipatan dan meningkat kearah timur laut yang berbatasan dengan zona
  • Sesar Wandemen (Dow, drr.,1984)
JLL adalah thin slab kerak benua yang telah tersungkup-sungkup kan kearah barat daya diatas kerak benua Kepala Burung (Subduksi menyusut = oblique subduction). Jalur ini telah mengalami rotasi searah jarum jam (antara 75-80). Porsi bagian tengah dari JLL ini terlipat kuat sehingga menimbulkan pengerutan. Dow drr (1985) menyarankan pengkerutan kerak (crustal shortening) ini sebesar 40-60 km. diperkirakan proses pemendekan tersebut masih berlangsung hingga sekarang. Jalur JLL di sebelah timur dibatasi oleh Sesar Wandamen di selatan oleh sesar Tarera Aiduna dan dibagian barat oleh sesaar aguni. Hal ini dapat menutup kemungkinan bahwa jalur JLL merupakan perangkap hidrokarbon jenis struktur yang melibatkan batuan alas akibat gaya berat memampat. 

4. Geomorfologi Irian Jaya

Secara astronomis, irian terletak antara 00 19’ – 100 43’ LS dan 1300 45’ 1500 48’ BT, mempunyai panjang 2400 km dan lebar 660 km. secara administratif pulau ini terdiri dari papua sebagai wilayah RI dan papua Nugini yang terlatak di bagian timur. Fisiografi papua dibedakan menjadi tiga bagian:
  1. Semenanjung barat atau kepala burung yang dihubungkan oleh leher yang sempit terhadap pulau utama (1300 – 1350 BT)
  2. Pulau utama atau tubuh (1350 – 143,50 BT)
  3. Bagian timur termasuk ekor (143,50 – 1510 BT)
Di sebelah utara papua terdapat bagian Samudra Pasifik yang dalamnya 4000m, dibatasi oleh kepulauan Carolina di sebelah utara. Pulau-pulau karang yang muncul terjal dari dasar samudra itu (Mapia di sebelah utara Manokwari) menunjukkan bahwa bagian samudra ini merupakan block kontinen yang tenggelam. Block kontinen yang tenggelam di sebelah utara Papua ini dianggap sebagai tanah batas “Melanesia”. Kearah selatan, Dangkalan Sahul (laut Arafura) dan selat torres menghubungkan Papua dengan Australia.

1. Kepala burung dan Leher
Sejajar dengan pantai utara Kepala burung terjadi rangkaian pegunungan yang membujur timur-barat antara Salawati dan Manokwari. Ini terbagi oleh utara dan selatan oleh sebuah depresi memanjang. Rangkaian utara tersusun dari batuan volkanis neogen dan kuarter yang diduga masih aktif atau volkan Umsini pada tingkat solfatar. Rangkaian selatan terdiri dari sediment tertier bawah dan per-tertier yang terlipat kuat. Arahnya timur-barat, kemudian melengkung ke selatan sampai pegunungan lima. Bagian utara kepala burung dipisahkan terhadap bagian selatan (Bombarai) oleh teluk Macculer yang luas tetapi dangkal, karena sedimentasi yang besar dan di tandai dangkalan yang berisi pulau-pulau, parit-parit, dan bukit-bukit yang terpisah-pisah.

2. Batang atau Daratan Utama
Bagian utara pulau ini menunjukkan zone-zone yang arahnya barat laut-tenggara yang sejajar atau sama lain. Selanjutnya berupa zone memanjang dari tanah rendah dan bukit-bukit, yaitu depresi memberamo-bewani yang sebagian jalin-menjalin dengan jalaur pantai utara daratan utama. Depresi tersebut membujur dari pantai timur teluk geelvink di sepanjang danau rambebai dan sentani sapai ke pantai finch dengan aitape. Disebelah selatan depresi ini terdapat rangkaian pegunungan kompleks yang disebut rangkaiana pembagi utara. Rangkaian pembagi utara ini merupakan deretan pegunungan dan pegunungan antara teluk geelvink di bagian barat dan muara sungai sepik di bagian timur. Dibagian barat terdapat puncak dom (1340 m), ke arah timur pegunungan van rees, yang secara melintang terpotong oleh sungai mamberamo, yang di ikiuti oleh pegunungan gauttier (>1000 m), pegunungan poya, karamoor, dan bongo. Di sebelah selatan pegunungan Cyclops terdapat sebuah sumbu depresi.

3. Bagian timur (“ekor”) Papua
Mulai 143,50 BT garis-garis arah umum fisiografinya menjadi barat laut-tenggara. Bagian timur menujukkan beberapa bentang alam yang berbeda dengan daratan utama. Di antara rangkaian timur laut dan rangkaian tengah, terbentang sebuah depresi, ditandai oleh lembah-lembah Ramu dan Markham. Ke arah timur zone ini melintas sampai teluk Huon. Rangkaian tengah, dimana rangkaian victoe emanuel merupakan bagian yang relatif sempit dari sistem pegunungan lengan papua. Perbedaan antara rangkaian tengah di bagian barat daratan utama pada satu pihak dan bagian timur serta ekor di pihak lain adalah dibentuk oleh perluasan volkanisme tertier dan kuarter di bagian timur tersebut. Pada tepi utara geantiklinal terdapat unsur volkan lain, seperti gunung lamington, Trafalgar, victory goropu, dan gunung dayman. Jalur volkanis membujur ini membujur sejajar sampai ke ujung tenggara ekor papua. Jalur tersebut merupakan zone dalam yang volkanis dari sistem orogen, sedangkan zone luar yang tidak volkanis merupakan pulau-pulau trobriand dan eoodlark, terletak sampai di sebelah utaranya.

5. Pengembangan Wilayah Irian Jaya

Provinsi Papua memiliki kondisi topografi yang sangat bervariasi dari daerah datar hingga daerah sangat curam. Sebagian besar wilayah Papua termasuk daerah datar dengan kisaran kemiringan lahan 0 - 8% mencapai luasan ± 16,3 juta hektar (38,6%) dan diikuti dengan kemiringan lahan 15 – 25% seluas ± 15,0 juta hektar (35,5%). Sedangkan 5,9% dari luas wilayah
Read more »
Cuaca dan Iklim di Papua

Cuaca dan Iklim di Papua

Keadaan iklim di Papua sangat dipengaruhi oleh topografi daerah. Pada saat musim panas di dataran Asia (bulan Maret dan Oktober) Australia mengalami musim dingin, sehingga terjadi tekanan udara dari daerah yang tinggi (Australia) ke daerah yang rendah (Asia) melintasi pulau Papua sehingga terjadi musim kering terutama Papua bagian selatan (Merauke). Sedikitnya pada saat angin berhembus dari Asia ke Australia (bulan Oktober dan Maret) membawa uap air yang menyebabkan musim hujan, terutama Papua bagian utara, dibagian selatan tidak mendapat banyak hujan karena banyak tertampung di bagian utara.

Cuaca dan Iklim di Papua


Keadaan iklim Papua termasuk iklim tropis, dengan keadaan curah hujan sangat bervariasi terpengaruh oleh lingkungan alam sekitarnya. Curah hujan bervariasi secara lokal, mulai dari 1.500 mm sampai dengan 7.500 mm setahun. Curah hujan di bagian utara dan tengah rata-rata 2000 mm per tahun (hujan sepanjang tahun). cuaca hujan di bagian selatan kurang dari 2000 mm per tahun dengan bulan kering rata-rata 7 (tujuh) bulan.

Indonesia mempunyai iklim tropik basah yang dipengaruhi oleh angin monsun barat dan monsun timur. Dari bulan November hingga Mei, angin bertiup dari arah Utara Barat Laut membawa banyak uap air dan hujan di kawasan Indonesia; dari Juni hingga Oktober angin bertiup dari Selatan Tenggara kering, membawa sedikit uap air. Suhu udara di dataran rendah Indonesia berkisar antara 23 derajat Celsius sampai 28 derajat Celsius sepanjang tahun. Namun suhu juga sangat bevariasi; dari rata-rata mendekati 40 derajat Celsius pada musim kemarau di lembah Palu - Sulawesi dan di pulau Timor sampai di bawah 0 derajat Celsius di Pegunungan Jayawijaya - Irian. Terdapat salju abadi di puncak-puncak pegunungan di Irian: Puncak Trikora (Mt. Wilhelmina - 4730 m) dan Puncak Jaya (Mt. Carstenz, 5030 m).

Papua terletak di sebelah selatan garis khatulistiwa, namun dikarenakan daerahnya yang bergunung-gunung maka iklim di Papua sangat berfariasi melebihi daerah Indonesia lainnya. Di pesisir barat dan utara beriklim tropis basah dengan curag hujan rata-rata berkisar antara 1.500-7.500 mm pertahun.
Curah hujan tertinggi terjadi di pesisir pantai utara dan di pegunungan tengah, sedangkan curah hujan terendah terjadi di pantai selatan. Hal tersebut diikuti dengan suhu udara yang berfariasi sejalan dengan bertambahnya ketinggian. Untuk setiap kenaikan ketinggian 100 m (900 feet), secara rata-rata maka suhu akan menurun 0,6ยบ C.

Kondisi cuaca di udara Papua memang terbilang ekstrim karena sering berubah-ubah. Menurut Soetamto, kondisi awan hujan yang sering melanda wilayah Jayapura dan sekitarnya diprakirakan berpeluang mengalami hujan lebat. Wilayah Sumatera Utara dan Papua merupakan dua dari tiga provinsi yang memiliki potensi tertinggi longsor, selain Jawa Barat. Perkiraan itu berdasarkan analisa data zona kerentanan tanah dan potensi curah hujan. Di wilayah Papua dengan kondisi yang berbukit-bukit dengan vegetasi tanamannya yang makin berkurang, potensi longsornya menguat. Wilayah Papua dengan potensi longsor tertinggi di antaranya mencakup wilayah Kabupaten Timika, Nabire, Paniai, Sorong, Manokwari, Fakfak, dan Jayapura.

Menyinggung perubahan cuaca yang tidak menentu, dapat pengaruh tekanan rendah di perairan utara Australia dan Samudera Pasifik. Kondisi ini mempengaruhi pembentukan daerah pertemuan angin yang memanjang di Laut Jawa serta dari Laut Banda hingga Laut Arafuru.

Peningkatan curah hujan di Provinsi Papua yang terjadi selama sepekan terakhir disebabkan perubahan arah angin di bagian utara Samudera Pasifik yang memicu percepatan pembentukan awan. Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Provinsi Papua Zeim Irianto kepada ANTARA, Minggu, mengatakan kondisi topografi Provinsi Papua yang berbatasan langsung dengan Samudera Pasifik, serta arah angin dari laut Filipina menjadi salah satu penyebab perubahan cuaca seperti pembentukan awan dan hujan yang terjadi begitu cepat sehingga sulit diprediksi.

Terkait dengan tingginya curah hujan, masyarakat papua terutama warga yang bertempat tinggal di lereng perbukitan dan pinggir pantai dihimbau untuk mewaspadai kemungkinan terjadi tanah longsor dan gelombang pasang.
Read more »